Sejarah Awal Berdirinya Pondok Putra Darut Tauhid
Sebelum Pondok Darut Tauhid berdiri megah seperti sekarang, terdapat sebuah jejak sejarah yang bermula dari sebuah pondok kecil di selatan dalem. Pondok ini, didirikan sekitar tahun 1993 oleh KH. Moh Saiful Islam, diberi nama Pondok Pesantren Zainul Hasan Fi Baitil Janub sebuah nama yang mencerminkan lokasinya di selatan kompleks dalem. Pada awalnya, pondok ini hanya memiliki tiga kamar sederhana di sisi barat mushalla, yang menjadi tempat bernaung bagi 11 santri dari berbagai penjuru, seperti Kalimantan, Jember, Krucil (Betek), Kerpangan, Jrebeng, dan Bondowoso. KH. Moh Hasan Saiful Islam, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Lembaga Bahasa Arab (Lughotul ‘Arabiyah), rutin memimpin salat berjemaah Maghrib dan Isya bersama para santri di mushalla tersebut.
Seiring berjalannya waktu, pondok ini mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Dua kamar tambahan dibangun di lantai atas mushalla, meskipun pada masa itu pondok ini belum memiliki identitas yang kuat secara nama. KH. Moh Hasan Saiful Islam kemudian mengambil langkah besar dengan membeli sebidang tanah di sebelah barat mushalla, yang sebelumnya dimiliki oleh seorang warga bernama Pak Mamang. Di tanah itulah beliau mendirikan tiga kamar baru untuk menampung santri tambahan, sehingga jumlah penghuni bertambah menjadi sekitar 12-13 orang, termasuk santri dari Kalimantan, Situbondo, Krucil, dan Leces.
Langkah ini semakin memantapkan keberadaan pondok. Sebuah plang nama bertuliskan Pondok Pesantren Zainul Hasan Fi Baitil Janub dipasang, memperkenalkan identitas pondok ini ke khalayak luas. Namun, perjalanan waktu membawa transformasi yang tak terhindarkan. Nama Baitil Janub perlahan tergantikan oleh nama baru, seiring pondok ini berkembang menjadi Pondok Darut Tauhid. sebuah pondok yang kini dikenal luas sebagai tempat pembentukan karakter islami dan Qurani. Jejak awal ini menjadi saksi sejarah dedikasi KH. Moh Hasan Saiful Islam dalam membangun generasi penerus yang tangguh, dimulai dari sebuah pondok sederhana yang kini menjelma menjadi warisan besar bernama Darut Tauhid.